A. Latar Belakang
Indonesia
sehat adalah suatu kondisi yang merupakan gambaran masyarakat Indonesia di masa
depan, yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan yang dapat
menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta
memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Di era globalisasi dimana
semua bidang kehidupan salah satunya bidang kesehatan mengalami perkembangan
yang pesat. Keadaan ini meyebabkan terjadinya pergeseran pola hidup,
peningkatan sosial, ekonomi masyarakat dan semakin luasnya jangkauan masyarakat.
Globalisasi secara langsung maupun tidak langsung menimbulkan masalah-masalah
diberbagai bidang kehidupan tak terkecuali masalah kesehatan. Masalah kesehatan
yang sering terjadi di masyarakat seperti DBD, Filariasis, Cacingan, Diare,
Cikungunya, Malaria, Kusta dan lain-lain. Pada kesempatan kali ini penulis akan
membahas masalah kesehatan yang berkaitan dengan penyakit kusta. penyakit kusta adalah penyakit kronik yang
disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae yang pertama kali menyerang
susunan saraf tepi, selanjutnya menyerang kulit, mukosa (mulut), saluran
pernapasan bagian atas, sistem retikulo endotelial, mata, otot, tulang dan
testis.
( Kamanto Sunarto, 2009)
Memelihara
dan meningkatkan derajat kesehatan, mencegah, dan mengobati penyakit serta
memulihkan kesehatan masyarakat perlu disediakan dan diselenggarakan pelayanan
kesehatan masyarakat yang sebaik-baiknya. Selain itu upaya untuk memecahkan masalah
kesehatan yang ada di masyarakat seperti penyakit kusta berkaitan dengan
menentukan frekuensi distribusi (penyebaran) serta faktor determinan atau
faktor-faktor yang mempengaruhi frekuansi dan penyebaran disuatu masalah
kesehatan tercakup dalam suatu cabang ilmu khusus yang
disebut dengan nama Epidemiologi.
Subjek
dan objek epidemiologi adalah tentang masalah kesehatan. Ditinjau dari sudut
epidemiologi, pemahaman tentang masalah kesehatan meliputi endemi, pandemi,
epidemi dan sporadik. Dengan demikian, subjek dan
objek epidemiologi berkaitan dengan masalah kesehatan secara keseluruhan oleh
karena itu tidak heran jika epidemiologi dikatakan sebagai inti dari kesehatan
masyarakat atau biasa dikenal The Mother Science Of Public Health Is
Epidemiology. Dengan adanya cara berfikir
epidemiologi maka masalah-masalah kesehatan di masyarakat dapat dipecahkan
dengan cepat dan efisien.
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaiman cara mengindentifikasi dan
menganalisis masalah kesehatan (penyakit kusta) menggunakan cara berfikir
epidemiologi ?
2.
Bagaimana fenomena
endemi,pandemi,epidemi dan sporadik di Indonesia ?
3.
Mengapa Epidemiologi dikatakan sebagai The
Mother Science Of Public Health Is Epidemiology ?
C. Pembahasan
Definisi Penyakit Kusta
Kamanto
Sunarto (2009) menjelaskan bahwa penyakit kusta adalah penyakit kronik yang
disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae yang
berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-8 mikron, lebar 0,2-0,5 mikron,
biasanya berkelompok dan ada yang tersebar satu-satu, hidup dalam sel, dan
bersifat asam (BTA). Bakteri ini ditemukan oleh G.H armauer Hansen pada tahun
1873. Penyakit ini bisa diderita oleh siapa saja, baik pria maupun wanita,
dewasa atau anak anak. Pertama kali menyerang susunan saraf tepi, selanjutnya
menyerang kulit, mukosa (mulut), saluran pernapasan bagian atas, sistem
retikulo endotelial, mata, otot, tulang dan testis.
Menurut
Depkes RI (2006) kusta merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan oleh
kuman kusta (Mycobacterium leprae) yang menyerang syaraf tepi, kulit dan
jaringan tubuh lainnya. Depkes RI (2006) juga menjelaskan bahwa penyakit kusta
merupakan salah satu penyakit menular yang dapat menimbulkan masalah yang
sangat kompleks. Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi
meluas sampai masalah sosial, ekonomi, dan psikologis.
Cara penularan penyakit ini belum
diketahui secara pasti, Namun kontak dengan penderita secara terus menerus dan
dalam waktu lama tampaknya sangat berperan terhadap penyebaran penyakit kusta.
Cara cara penularan penyakit kusta masih merupakan tanda tanya. Namun telah
diketahui pintu keluar kuman kusta dari tubuh manusia, yakni selaput lendir
hidung.
Epidemiologi Penyakit Kusta
A. Frekuensi Penyakit
Kusta di Madura
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes)
setempat, untuk tahun 2013 tercatat 394 orang yang terserang penyakit menular
itu, dan pada tahun 2012 lalu tercatat sebanyak 514 penderita. Jumlah tertinggi
ditemukan di kecamatan Kedungdung dan Karangpenang Sampang. Dinas Kesehatan
Kabupaten Sampang kesulitan menekan jumlah penderita penyakit kusta. Kondisi
itu disebabkan adanya pengucilan para penderita oleh masyarakat. pengucilan
tidak hanya dilakukan oleh tetangga atau masyarakat umum, tapi juga dilakukan
oleh keluarga dan orang terdekat para penderita.
Angka penderita kusta di Kabupaten Sumenep
sangat tinggi. Pada tahun 2013, jumlah penderita kusta mencapai 475 orang
(bukan 420 seperti diungkapkan Dinkes Propinsi Jatim). Ratusan penderita itu
terdiri dari tipe kusta PB sebanyak 115 orang, dan tipe MB sebanyak 360
orang. dari Januari-Juni 2013 jumlah
penderita kusta memang mencapai angka 420 orang, tapi dari Januari-Desember
2013 mencapai 475 orang. Dari 475 penderita kusta yang tersebar di
Kecamatan Arjasa, Talango dan Pragaan itu, terdiri dari penderita lama dan
baru. Penderita kusta baru tipe PB umur 0-14 tahun mencapai 21 orang, umur 14
tahun keatas sebanyak 94 orang.
Sedangkan kusta tipe MB
umur 0-14 tahun sebanyak 31 orang, umur 14 tahun lebih sebanyak 329 orang
Dari 475 penderita
kusta, sebanyak 21 orang (4,49 persen) meninggal dunia, sebanyak 17 orang 3,6
persen mengalami disabilitas atau cacat. Kematian lantaran penyakit kusta itu
karena daya tahan tubuhnya tidak mampu, kemudian tertindih penyakit lain.
Kabupaten Sampang
mencapai 725 orang, Sumenep 420 orang, Bangkalan 340 orang
Dinkes memberi
pelayanan kesehatan diantaranya program obat selama setahun yang harus dijalani
penderita, namun kendalanya penderita kerap kali putus asal, sehingga Droup Out.
B.
Distribusi penyakit
kusta di Madura
Penyakit
kusta menyebar di seluruh dunia, namun sebagian kasus yang terjadi pada daerah
tropis dan sub tropis. konsultan rehabilitasi kusta dari lembaga Netherlands
Leprasy Relief, Firmansyah Arief mengungkapkan bahwa Indonesia menempati urutan
ketiga di dunia dengan penderita terbanyak setelah India dan Brazil.
Penyebaran penyakit ini
dapat terjadi karena beberapa hal termasuk distribusi geografis. Sejarah
penyebaran penyakit kusta di Indonesia diduga dibawa oleh pendatang dari India
yang datang ke Indonesia untuk meyebarkan agamanya dan berdagang.
Namun jika dilihat
penyebarannya, di Indonesia, terjadi perbedaan distribusi. Perbedaan distribusi
penyakit ini dapat terjadi karena faktor etnik. Pada kasus kusta di Indonesia,
etnik Madura dan Bugis lebih banyak menderita kusta dibandingkan etnik Jawa dan
Melayu. Jika dilihat pada data kesehatan Indonesia tahun 2010 terdapat
perbedaan yang mencolok pada jumlah penderita penyakit kusta di Jawa Timur
dimana etnis terbesar adalah etnis Madura.
Direktorat Jenderal
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen PP & PL) telah
menetapkan 33 provinsi di indonesia kedalam dua kelompok beban kusta yaitu
kelompok dengan beban kusta tinggi (high endemic) dan beban kusta rendah (low
endemic).
Jika dilihat dari data
di atas, terjadi perbedaan distribusi penyebaran penyakit ini. Perbedan
distribusi tersebut diperkuat dengan data dari Ditjen PP&PL, Kemenkes RI
tahun 2011 mengenai jumlah penderita kusta (baik tipe Multi Basiler, maupun
tipe Pausi Basiler) dengan jumlah penderita terbanyak pada Provinsi Jawa Timur
sebanyak 4653 jiwa.
Berdasarkan data dari
Ditjen PP&PL, Kemenkes RI tahun 2011, pada tahun 2010 dilaporkan terdapat
kasus baru penyakit kusta dengan jenis Multi Basiler sebanyak 13.734 dan kasus
tipe Pausi Basiler sebanyak 3.278 dengan Newly Case Detection rate (NCDR)
sebesar 7,22 per 100.000 penduduk.
Distribusi penyakit
kusta menurut orang
1.Distribusi menurut
umur
Penyakit kusta jarang sekali ditemukan pada bayi. Angka
kejadian penyakit kusta meningkat sesuai umur dengan puncak kejadian pada umur
10-20 tahun (Depkes RI, 2006). Penyakit kusta dapat mengenai semua umur dan
terbanyak terjadi pada umur 15-29 tahun. Serangan pertama kali pada usia di
atas 70 tahun sangat jarang terjadi. Di Brazil terdapat peninggian prevalensi
pada usia muda, sedangkan pada penduduk imigran prevalensi meningkat di usia
lanjut (Harahap, 2000). Menurut Depkes RI (2006) kebanyakan penelitian
melaporkan bahwa distribusi penyakit kusta menurut umur berdasarkan prevalensi,
hanya sedikit yang berdasarkan insiden karena pada saat timbulnya penyakit
sangat sulit diketahui.
2. Distribusi menurut
jenis kelamin
Kejadian penyakit kusta pada laki-laki lebih banyak
terjadi dari pada wanita, kecuali di Afrika, wanita lebih banyak terkena penyakit
kusta dari pada laki-laki (Depkes RI, 2006). Menurut Louhennpessy dalam Buletin
Penelitian Kesehatan (2007) bahwa perbandingan penyakit kusta pada penderita
laki-laki dan perempuan adalah 2,3 : 1,0, artinya penderita kusta pada laki-laki
2,3 kali lebih banyak dibandingkan penderita kusta pada perempuan. Menurut Noor
dalam Buletin Penelitian Kesehatan (2007) penderita pria lebih tinggi dari
wanita dengan perbandingannya sekitar 2 : 1.
Diagnosis dan
Klasifikasi
Penderita penyakit kusta menimbulkan gejala yang jelas
pada stadium lanjut dan cukup didiagnosis dengan pemeriksaan fisik tanpa pemeriksaan
bakteriologi. Ada 3 tanda – tanda utama yang dapat menetapkan diagnosis
penyakit kusta yaitu: Lesi (kelainan) kulit yang mati rasa, penebalan saraf
tepi yang disertai dengan gangguan fungsi saraf, dan adanya bakteri tahan asam
di dalam kerokan jaringan kulit. Pemeriksaan kerokan hanya dilakukan pada kasus
yang meragukan. Apabila ditemukan pada seseorang salah satu tanda - tanda utama
seperti diatas maka orang tersebut dinyatakan menderita kusta (Depkes, 2006).
Apabila petugas kesehatan ragu-ragu untuk menegakkan
diagnosis, sebaiknya penderita dirujuk ke rumah sakit terdekat untuk terapi
anti kusta Multi Drug Therapy (MDT) agar tidak menjadi sumber penularan,
selain menghindari kemungkinan cacat menjadi besar. Namun bila petugas ragu dan
sulit merujuk ke rumah sakit karena alasan jauh maka orang tersebut dianggap
sebagai suspek. Tanda-tanda tersangka kusta tidak dapat digunakan sebagai dasar
diagnosis penyakit kusta. Tanda-tanda pada kulit tersangka penderita kusta
adalah sebagai berikut : Bercak/kelainan kulit yang merah atau putih di bagian
tubuh, kulit mengkilap, bercak yang tidak gatal, adanya bagian-bagian tubuh
yang tidak berkeringat atau tidak berambut, lepuh tidak nyeri dan tanda-tanda
pada saraf adalah sebagai berikut: rasa kesemutan, tertusuk-tusuk dan nyeri
pada anggota badan atau muka, gangguan gerak anggota badan atau bagian muka,
adanya cacat, dan luka yang tidak mau sembuh (Depkes RI, 2006).
Seseorang yang telah didiagnosis menderita kusta
selanjutnya akan ditentukan tipe/klasifikasi penyakit kusta. Tujuan klasifikasi
penyakit kusta adalah untuk menentukan jenis, lamanya pengobatan, waktu penderita
dinyatakan sembuh dan perencanaan logistik. Menurut Depkes RI (2006) pada tahun
1982 jenis klasifikasi World Health Organization (WHO) yang
dipakai oleh petugas kesehatan di seluruh Indonesia untuk menentukan penderita
kusta tipe Pauci Baciler atau Multi Baciler. Pedoman untuk
menentukan penyakit kusta tersebut menurut klasifikasi World Health
Organization yaitu :
Tabel 2.3 Klasifikasi
Kusta Menurut WHO
Kelainan kulit dan hasil pemeriksaan
|
PB
|
MB
|
1.bercak (makula) mati rasa :
Ukuran
Distribusi
Konsistensi
Batas
Kehilangan rasa pada bercak
Kehilangan kemampuan berkeringat, rambut rontok
pada bercak
|
Kecil dan besar
Uniteral atau bilateral asimetris
Kering dan kasar
Tegas
Selalu ada dan jelas
Selalu ada dan jelas
|
Kecil-kecil
Bilateral simetris
Halus,berkilat
Kurang tegas
Biasanya tidak jelas,jika ada,terjadi pada yang
sudah lanjut
Biasanya tidak jelas,jika ada,terjadi pada yang
sudah lanjut
|
2.infiltrat :
Kulit
Membran mukosa
(hidung tersumbat, pendarahan di hidung)
Ciri-ciri
Nodulus
Deformitas
|
Tidak ada
Tidak pernah ada
Central healing
(penyembuhan di tengah)
Tidak ada
Terjadi dini
|
Ada,kadang-kadang
tidak ada
Ada,kadang-kadangtidak
ada
punched out lesion
(lesi bentuk seperti donat)
madarosis
ginekomasti
hidung pelana
suara sengau
Kadang-kadang ada
Biasanya simetris,
terjadi lambat
|
Pencegahan Penyakit
Kusta
Pencegahan primer
Pencegahan primer dapat dilakukan dengan :
Pencegahan primer dapat dilakukan dengan :
a. Penyuluhan kesehatan
Pencegahan primer
dilakukan pada kelompok orang sehat yang belum terkena penyakit kusta dan
memiliki resiko tertular karena berada disekitar atau dekat dengan penderita
seperti keluarga penderita dan tetangga penderita, yaitu dengan memberikan
penyuluhan tentang kusta. Penyuluhan yang diberikan petugas kesehatan tentang
penyakit kusta adalah proses peningkatan pengetahuan, kemauan dan kemampuan
masyarakat yang belum menderita sakit sehingga dapat memelihara, meningkatkan
dan melindungi kesehatannya dari penyakit kusta. Sasaran penyuluhan penyakit
kusta adalah keluarga penderita, tetangga penderita dan masyarakat (Depkes RI,
2006)
b. Pemberian imunisasi
Sampai saat ini belum ditemukan upaya pencegahan primer
penyakit kusta seperti pem’berian imunisasi (Saisohar,1994). Dari hasil
penelitian di Malawi tahun 1996 didapatkan bahwa pemberian vaksinasi BCG satu
kali dapat memberikan perlindungan terhadap kusta sebesar 50%, sedangkan
pemberian dua kali dapat memberikan perlindungan terhadap kusta sebanyak 80%,
namun demikian penemuan ini belum menjadi kebijakan program di Indonesia karena
penelitian beberapa negara memberikan hasil berbeda pemberian vaksinasi BCG tersebut (Depkes RI, 2006).
Pencegahan
sekunder
Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan :
Pengobatan pada
penderita kusta
Pengobatan
pada penderita kusta untuk memutuskan mata rantai penularan, menyembuhkan
penyakit penderita, mencegah terjadinya cacat atau mencegah bertambahnya cacat
yang sudah ada sebelum pengobatan. Pemberian Multi drug therapy pada
penderita kusta terutama pada tipe Multibaciler karena tipe tersebut merupakan
sumber kuman menularkan kepada orang lain (Depkes RI, 2006).
Pencegahan tertier
Pencegahan
tersier dilakukan untuk pencegahan cacat kusta pada penderita. Upaya pencegahan
cacat terdiri atas (Depkes RI, 2006) :
Upaya pencegahan cacat
primer meliputi penemuan dini penderita sebelum cacat, pengobatan secara
teratur dan penangan reaksi untuk mencegah terjadinya kerusakan fungsi saraf.
Upaya pencegahan cacat
sekunder meliputi perawatan diri sendiri untuk mencegah luka dan perawatan
mata, tangan, atau kaki yang sudah mengalami gangguan fungsi saraf.
Rehabilitasi kusta
Rehabilitasi
merupakan proses pemulihan untuk memperoleh fungsi penyesuaian diri secara
maksimal atas usaha untuk mempersiapkan penderita cacat secara fisik, mental,
sosial dan kekaryaan untuk suatu kehidupan yang penuh sesuai dengan kemampuan
yang ada padanya. Tujuan rehabilitasi adalah penyandang cacat secara umum dapat
dikondisikan sehingga memperoleh kesetaraan, kesempatan dan integrasi sosial
dalam masyarakat yang akhirnya mempunyai kualitas hidup yang lebih baik (Depkes
RI, 2006). Rehabilitasi terhadap penderita kusta meliputi :
Latihan fisioterapi
pada otot yang mengalami kelumpuhan untuk mencegah terjadinya kontraktur.
Bedah rekonstruksi
untuk koreksi otot yang mengalami kelumpuhan agar tidak mendapat tekanan yang
berlebihan.
Bedah plastik untuk
mengurangi perluasan infeksi.
Terapi okupsi (kegiatan
hidup sehari-hari) dilakukan bila gerakan normal terbatas pada tangan.
Konseling dilakukan
untuk mengurangi depresi pada penderita cacat.
Faktor – Faktor
Determinan
Epidemiologi sosial mengkaji saling
keterkaitan antara faktor sosial dengan distribusi penyakit dalam populasi.
Distrbusi penyakit kusta yang terjadi pada etnis Madura memiliki katian dengan
faktor sosial.
Ada beberapa hipotesa penyebab
munculnya penyakit ini dan menjadi endemik di Jawa Timur khususnya Madura
yaitu:
ü Kurangnya
kesadaran terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan
ü Mayoritas
masyarakat Madura dengan status sosio-ekonomi rendah dengan pekerjaan sebagai
petani garam
ü “Eksklusivitas”
etnis Madura dan penanganan yang kurang tepat kepada penderita.
Faktor determinan
penyakit kusta di Madura
ü Lingkungan
fisik
Kurangnya
kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan menjadi salah satu penyebab munculnya
penyakit kusta. Rendahnya gizi dan imunitas pada masyarakat Madura yang
diakibatkan oleh gaya hidup yang tidak sehat juga berpotensi tertular penyakit
kusta.Kelompok yang berisiko tinggi terkena kusta adalah yang tinggal di daerah
endemik dengan kondisi yang buruk. Kondisi kebersihan yang buruk dan
kesadaran akan penyakit kusta yang banyak terjadi di daerah jawa timur
khususnya pada etnis Madura menyebabkan penyakit kusta meningkat.
ü Ekonomi
Masyarakat
Madura termasuk pada golongan dengan status ekonomi rendah. Rendahnya status
ekonomi menyebabkan minimnya akses terhadap pelayanan medis, Hal ini
menyebabkan mereka yang telah tertular sulit untuk mendapatkan pengobatan medis
yang layak. Status ekonomi yang rendah
menyebabkan mereka hidup dengan sanitasi yang buruk dan akses terhadap pelayaan
kesehatan sehingga mereka terkena penyakit kusta.
ü Perilaku
Individu
Masyarakat
Madura yang hidup di Madura rata rata adalah saudara sendiri sehingga hubungan
kekerabatannya sangat dekat. Rasa persaudaraan dan loyalitas juga rasa bangga
dengan etnis sendiri membuat masyarakat Madura lebih ‘eksklusif’. Mereka
melakukan kegiatan bersama sama dan mendirikan tempat ibadah khusus bagi
kelompok mereka. Hal ini membuat kontak satu sama lain menjadi lebih erat dan
menyebabkan tertularnya bakteri Mycobacterium Leprae pada kalangan mereka
sendiri, bahkan sebelum terlihat tanda atau gejala penyakit kusta. Masyarakat
Madura dengan eksklusivitasnya lebih sering bersosialisasi dengan sesama etnis
Madura. Dengan minimnya pengetahuan mengenai penyebaran dan gejala penyakit
kusta, masyarakat Madura yang hidup dan berkontak langsung dalam waktu lama
memungkinkan penyebaran penyakit ini.
Penyebab
penyakit ini terus berkembang pada etnis Madura karena kurangnya kesadaran masyarakat terhadap penyakit kusta.
Masyarakat Madura sebagian besar tidak mengetahui penyebab munculnya penyakit
ini. Berdasarkan artikel yang saya baca, masyarakat Madura hidup pada lahan
yang kurang subur dan kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai petani garam.
Berdasarkan
stratifikasi sosial ekonomi, masyarakat Madura termasuk pada golongan dengan
status sosial-ekonomi rendah. Status sosial-ekonomi memiliki pengaruh terhadap
penyebab muncul dan berkembangnya penyakit ini.
Rendahnya
status ekonomi menyebabkan minimnya akses terhadap pelayanan medis, hal ini
menyebabkan mereka yang telah tertular sulit untuk mendapatkan pengobatan medis
yang layak. Status sosial-ekonomi yang rendah juga berpengaruh terhadap
sanitasi dan tindakan preventif yang bisa mereka lakukan. Selain itu, dengan
mengidap penyakit kusta, mereka tidak dapat mendapatkan pekerjaan yang baik
sehingga semakin membuat mereka sulit mendapatkan biaya untuk penyembuhan.
Dapat disimpulkan bahwa status sosial ekonomi yang rendah menyebabkan mereka
hidup dengan sanitasi yang buruk dan akses terhadap pelayaan kesehatan sehingga
mereka terkena penyakit kusta. Penyakit ini menyebabkan mereka tidak mndapatkan
pekerjaan yang layak sehingga status sosial ekonomi mereka semakin rendah.
Penyakit kusta juga dapat menyebabkan cacat penyakit akan membuat mereka tidak
dapat mendapatkan pekerjaan yang baik
Kurangnya
kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan juga menjadi salah satu
penyebab munculnya penyakit ini. Rendahnya gizi dan imunitas pada masyarakat
Madura yang diakibatkan oleh gaya hidup yang tidak sehat juga berpotensi
tertular penyakit kusta. Kelompok yang berisiko tinggi terkena kusta adalah
yang tinggal di daerah endemik dengan kondisi yang buruk. Kondisi
kebersihan yang buruk dan kesadaran akan penyakit kusta yang banyak terjadi di
daerah jawa timur khususnya pada etnis Madura menyebabkan penyakit kusta
meningkat.
Masyarakat
Madura yang hidup di Madura rata rata adalah saudara sendiri sehingga hubungan
kekerabatannya sangat dekat. Rasa persaudaraan dan loyalitas juga rasa bangga
dengan etnis sendiri membuat masyarakat Madura lebih ‘eksklusif’. Mereka
melakukan kegiatan bersama sama dan mendirikan tempat ibadah khusus bagi
kelompok mereka. Hal ini membuat kontak satu sama lain menjadi lebih erat dan
menyebabkan tertularnya bakteri Mycobacterium Leprae pada kalangan mereka
sendiri, bahkan sebelum terlihat tanda atau gejala penyakit kusta. Masyarakat
Madura dengan eksklusivitasnya lebih sering bersosialisasi dengan sesama etnis
Madura. Dengan minimnya pengetahuan mengenai penyebaran dan gejala penyakit
kusta, masyarakat Madura yang hidup dan berkontak langsung dalam waktu lama
memungkinkan penyebaran penyakit ini. Apalagi penyebaran penyakit ini tidak
terlihat dalam waktu singkat karena masa inkubasi baketri penyebab penyakit ini
dalam waktu 3 samapi 10 tahun. Penderita penyakit kusta yang sudah muncul
gejala gejala seperti bintik bintik putih sebenarnya telah tertular bakteri
Mycobacterium Leprae sejak bertahun lalu.
Penanganan
yang tidak tepat yang dilakukan oleh masyarakat Madura terhadap penderita juga
menyebabkan semakin parah dan berkembangnya penyakit kusta pada etnis Madura.
Mereka cenderung mengucilkan dan mengungsikan penderita penyakit kusta pada
daerah terpencil seperti hutan. Pengasingan tersebut dapat disebabkan oleh
banyak faktor diantaranya, keluarga penderita malu memiliki anggota keluarga
yang memiliki penyakit kusta karena mereka mengganggap penyakit ini merupakan
kutukan dari Tuhan. Kedua, masyrakat takut tertular penyakit ini, sehingga
mereka harus menjauhi penderita. Ketiga, masyarakat dan keluarga penderita
tidak memiliki biaya dan pengetahuan yang cukup dalam pengobatan penyakit ini.
Ketiga faktor tersebut menyebabkan penderita diungsikan. Namun, dengan
pengungsian tersebut, penyebaran penyakit ini tidak dapat dihentikan. Karena
bakteri ini masih dapat hidup dalam waktu 9 hari di luar tubuh manusia atau di
lingkungan sekitar, pada suhu 27oC-30oC.
Untuk
memutus persebaran penyakit ini ada beberapa hal yang harus dilakukan. Pertama,
meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit kusta dan menberikan
penyuluhan agar mereka tidak mengucilkan penderita penyakit kusta yang malah
akan memperparah penyebaran. Mereka diberi penyuluhan agar bisa mendeteksi
terjangkitnya penyakit ini agar bisa ditangani sedini mungkin. Kedua,
meningkatkan kesadaran akan kebersihan lingkungan, karena lingkungan yang tidak
bersih merupakan sumber berbagai penyakit. Ketiga, meningkatkan daya tahan
tubuh atau imunitas agar tidak mudah tertular bakteri penyakit. Selain itu,
pemerintah masih terus mengupayakan agar jumlah masyarakat yang tertular tidak
bertambah dengan berbagai program kesehatan.
2.
Fenomena Epidemi, Pandemi, Endemi dan Sporadik di Indonesia
1.
Epidemi
Wabah
atau epidemi adalah istilah umum untuk menyebut kejadian tersebarnya penyakit
pada daerah yang luas dan pada banyak orang, maupun untuk menyebut penyakit
yang menyebar tersebut. Epidemi dipelajari dalam epidemiologi. Dalam
epidemiologi, epidemi berasal dari bahasa Yunani yaitu “epi” berarti pada dan
“demos” berarti rakyat. Dengan kata lain, epidemi adalah wabah yang terjadi
secara lebih cepat daripada yang diduga. Jumlah kasus baru penyakit di dalam
suatu populasi dalam periode waktu tertentu disebut incide rate (laju timbulnya
penyakit).
Dalam peraturan yang
berlaku di Indonesia , pengertian wabah dapat dikatakan sama dengan epidemi,
yaitu “kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang
jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi daripada keadaan yang lazim
pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. Atau timbulnya suatu penyakit
yang menimpa sekelompok masyarakat atau suatu wilayah tertentu dalam waktu yang
singkat berada dalam frekuensi yang meningkat/dengan angka kejadian yang melebihi
angka normal dari kejadian penyakit tersebut.
Beberapa
jumlah penderita untuk bisa dikatakan telah terjadi Epidemi sangat tergantung
dari jenis penyakit, jumlah dan tipe penduduk yang tertimpa, pengalaman masa
lalau, jarangnya terpajan dengan penyakit tersebut, waktu dan tempat kejadian.
Dengan demikian epidemisitas sangat relatif tergantung kepada bagaumana
kejadian biasanya dari penyakit tersebut di suatu wilayah yang sama, pada
penduduk tertentu pada musim yang sama.
Sebagai contoh satu
kasus penyakit tertentu yang lama tidak muncul kemudian tiba-tiba muncul atau
suatu kasus penyakit yang sebelumnya belum pernah dikenal, muncul maka segera
harus dilakukan penyelidikan epidemiologis dan jika kemudian penyakit tersebut
menjadi dua kasus dalam waktu yang cepat di tempat tersebut maka ini sebagai
bukti telah terjadi penularan dan dianggap telah terjadi epidemi.
Contoh fenomena dari
epidemi yaitu penyakit AIDS
Remaja dan Epidemi AIDS
Secara
nasional, berdasarkan data Kementerian Kese hatan temuan kasus pada usia 15-19
tahun hingga September 2013 men capai 3,2 persen. Data ini merupakan data AIDS
yang artinya temuan kasus HIV pada usia tersebut bisa terja di sekitar usia
10-15 tahun. Karena secara teori temuan kasus AIDS diasumsikan terinfeksi HIV
sekitar 5 sampai 10 tahun sebelumnya. Fenomena yang sama juga terjadi di daerah
tidak terkecuali Provinsi Riau dan Kota Pekanbaru. Berdasarkan data Komisi
Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Riau yang diperoleh dari Dinas Kesehatan
Provinsi Riau hingga September 2013, temuan kasus AIDS pada usia 15 -19 tahun
mencapai 2,1 %. Sementara pada usia 20-24 tahun mencapai 18 persen. Di Kota
Pekanbaru, berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru hingga September
2013, temuan kasus AIDS pada usia 15 -19 tahun mencapai 1,8 persen. Sementara
pada usia 20-24 tahun mencapai 16,7 persen.
Data
tersebut semakin diyakini banyak pihak jika dikorelasikan dengan
kejadian-kejadian di lapangan. Fenomena seks bebas pada remaja masih banyak
ditemukan antara lain fenomena seks bebas pada kelompok geng motor yang pernah
muncul beberapa waktu lalu. Berdasarkan pengakuan dari tersangka, fenomena seks
bebas merupakan hal yang biasa dan kerap terja di dalam komunitas mereka.
Walaupun sebenarnya tidak semua geng motor atau club motor yang perilakunya
seperti itu.
Selain
itu adalah semakin maraknya kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh dan pada
pelajar/siswa. Untuk mencari resep yang ampuh untuk mengatasi hal tersebut,
maka penulis mengajak untuk mengidentifikasi penyebab situasi tersebut terjadi.
Penyebab situasi tersebut antara lain adalah: Pertama, gaya hidup. Gaya hidup
remaja saat ini sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi. Penggunaan sarana
komunikasi salah satunya. Penggunaan telepon genggam dengan fitur-fitur canggih
menjadi tren yang sedang marak. Akses internet sudah dapat dilakukan di
genggaman tangan. Sebagai sebuah bentuk perkembangan teknologi, penggunaan
smart phone diperlukan atau dapat dimanfaatkan.
Namun dalam
kenyataannya pemanfaatan terkadang berbanding lurus dengan penyalahgunaan. Gaya
hidup lainnya adalah penggunaan kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda
empat. Kemunculan klub motor dan sering adanya balapan liar merupakan refleksi
dari adanya gaya hidup.
Kedua,
kurangnya pendidikan kesehatan reproduksi. Pendidikan reproduksi yang dimaksud
tentu saja dalam konteks pengetahuan. Selama ini informasi tentang seksualitas
dianggap tabu. Padahal remaja perlu tahu tentang organ reproduksi baik dari
sisi fungsi maupun apa dampak yang akan terjadi jika disalah gunakan. Dengan
sifat ingin tahu yang besar, remaja akan mencari informasi di luar yang justru
tidak dapat diukur manfaatnya.
Ketiga,
kurangnya pengawasan. Keterbatasan waktu orangtua dan sikap pragmatisme dunia
pendidikan menyebabkan pengawasan terhadap remaja menjadi berkurang. Ukuran
rasa sayang orang tua cenderung dinilai dengan fasilitas yang diberikan kepada
anaknya. Sementara ukuran keberhasilan dunia pendidikan lebih diukur dengan
perolehan nilai siswa pada saat ujian. Akibatnya dunia pendidikan juga sangat
pragmatis dengan mengupayakan sekuat tenaga agar perolehan nilai khususnya
nilai Ujian Nasional menjadi tinggi.
Berdasarkan
hal tersebut diatas terdapat beberapa langkah atau upaya yang dapat dilakukan.
Langkah atau upaya ini juga didasarkan pada pengalaman empiris selama penulis
terlibat dalam upaya penanggulangan AIDS di KPA Kota Pekanbaru. Upaya tersebut
adalah sebagai berikut:
Pertama,
perlunya pendidikan atau pemberian informasi tentang kesehatan reproduksi
remaja. Upaya ini sebenarnya sudah dilakukan melalui berbagai program
antaralain pembentukan kelompok siswa yang tergabung dalam Pusat Informasi dan
Konseling Remaja (PIK-R). Pembentukan PIK-R belum direspon oleh semua sekolah.
Aktivasi PIK-R yang sudah dibentuk juga patut terus dilakukan dan tidak sekedar
dibentuk. Oleh sebab itu peran sekolah menjadi penting untuk hal tersebut.
Kegiatan PIK-R dapat dilakukan dan dikemas deng an kegiatan-kegiatan sederhana
dan tidak memerlukan biaya yang besar dan tentu saja disesuaikan dengan situasi
sekolah.
Kedua,
Perlunya pendidikan karakter (caracter building). Pendidikan karakter ini
dilakukan agar siswa memiliki norma dan etika baik norma agama maupun norma
dalam kehidupan sehari-hari. Upaya ini perlu ditopang juga dengan teknis atau
cara guru pada saat mengajar. Karena pada hakekatnya guru tidak hanya
berkewajiban mengajar tapi juga mendidik. Peran orang tua juga menjadi penting.
Bentuk kasih sayang orang tua diharapkan tidak hanya dibuktikan dengan berapa
banyak fasilitas yang sudah diberikan kepada anaknya. Peningkatan pemahaman
agama pada remaja menjadi penting untuk upaya ini. Dengan bekal pengetahuan dan
pengamalan agama yang cukup diharapkan remaja lebih protektif pada hal-hal
negatif.
Oleh sebab itu peran
tokoh agama, tokoh masyarakat juga penting untuk pendidikan karakter.
Ukuran-ukuran keberhasilan remaja juga diharapkan tidak hanya diukur dari
capaian-capaian angka kuantitatif.
Ketiga,
pengaturan dunia penyiaran. Upaya ini penting dilakukan karena perilaku remaja
yang hadir padahari ini tidak telepasdari informasi yang diterimaremaja. Dan
salah satu sumber informasi tersebut adalah informasi dari media massa. Situasi
hari ini, materi siaran media sangat mengikuti tren rating. Materi dan
substansi yang disampaikan cenderung diabaikan. Tayangan-tayangan yang sebenarnya
tidak sesuai dengan norma-norma menjadi marak dan ditayangkan pada jam utama
atau primetime.
Peran ini melekat pada
pemerintah dan lembaga pemerintah antaralain Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).
Upaya yang dilakukan
apapun bentuknya, tetap memerlukan dukungan semua pihak. Karena apapun yang
berhubungan dengan keprihatinan pada dunia remaja akan berpengaruh pada masa
depan kita sebagai bangsa. Karena remaja merupakan generasi penerus bangsa.
Tanggung jawabnya tidak hanya pada guru tetapi juga pada orangtua, keluarga,
masyarakat dan pemerintah.
2.
Pandemi
Pandemi
atau epidemi global atau wabah global adalah kondisi dimana terjangkitnya
penyakit menular pada banyak orang dalam daerah geografi yang luas. Berasal
dari bahasa Yunani “pan” yang artinya semua dan “demos” yang artinya rakyat
Menurut Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO), suatu pandemi dikatakan terjadi bila ketiga syarat
berikut telah terpenuhi :
• Timbulnya penyakit
bersangkutan merupakan suatu hal baru pada populasi bersangkutan,
• Agen penyebab
penyakit menginfeksi manusia dan menyebabkan sakit serius,
• Agen penyebab
penyakit menyebar dengan mudah dan berkelanjutan pada manusia.
Contoh fenomena pandemi
yatu flu babi.
Penderita flu babi di Indonesia terus
bertambah. Pada tahun 2012 Departemen Kesehatan mengkonfirmasi 18 kasus baru
positif influenza A H1N1. Adanya kasus baru ini membuat jumlah penderita
secara kumulatif mencapai 948 orang yang tersebar di 24 provinsi di Indonesia.
Cara yang efektif untuk mencegah adalah menjaga
kondisi tubuh tetap sehat dan bugar yakni makan dengan gizi seimbang,
beraktivitas fisik/berolahraga, istirahat yang cukup dan mencuci tangan pakai
sabun. Selain itu, bila batuk dan bersin tutup hidung dengan sapu tangan atau
tisu. Jika ada gejala Influenza minum obat penurun panas, gunakan
masker dan tidak ke kantor/sekolah/tempat-tempat keramaian serta beristirahat
di rumah selama 5 hari. Apabila dalam
2 hari flu tidak juga membaik segera pergi ke dokter. Upaya kesiapsiagaan tetap dijalankan pemerintah yaitu
dengan penguatan Kantor Kesehatan Pelabuhan (thermal scanner dan Health Alert
Card wajib diisi), penyiapan RS rujukan; penyiapan logistik, penguatan
pelacakan kontak, penguatan surveilans ILI, penguatan laboratorium, komunikasi,
edukasi dan informasi dan mengikuti International Health Regulations (IHR).
Disamping itu juga dilakukan community surveilans
yaitu masyarakat yang merasa sakit flu agak berat segera melapor ke Puskesmas,
sedangkan yang berat segera ke rumah sakit. Selain itu, clinical surveilans
yaitu surveilans severe acute respiratory infection (SARI) ditingkatkan di
Puskesmas dan rumah sakit untuk mencari kasus-kasus yang berat. Sedangkan
kasus-kasus yang ringan tidak perlu dirawat di rumah sakit.
3. Endemi
Endemi
adalah penyakit yang umum terjadi pada laju konstan namun cukup tinggi pada
suatu populasi. Berasal dari bahasa Yunani “en” yang artinya di dalam dan
“demos” yang artinya rakyat. Terjadi pada suatu populasi dan hanya berlangsung
di dalam populasi tersebut tanpa adanya pengaruh dari luar.
Dalam
bahasa percakapan, penyakit endemik sering diartikan sebagai suatu penyakit
yang ditemukan pada daerah tertentu, sebagai contoh AIDS sering dikatakan
“endemik” di Afrika. Walaupun kasus AIDS di Afrika masih terus meningkat
(sehingga tidak dalam keadaan tunak endemik) lebih tepat untuk menyebut kasus
AIDS di Afrika sebagai suatu epidemi.
Contoh fenomena yang
terjadi yaitu malaria.
Indonesia bagian timur merupakan daerah
yang masih sangat tinggi angka kasus malarianya. Berdasarkan data Kementerian
Kesehatan yang menunjukkan bahwa Papua, Papua Barat, dan NTT menjadi 3 provinsi
yang memiliki angka kasus malaria terbesar.
Dibanding DKI Jakarta yang saat ini dilanda banjir
besar, angka kasus malaria di Papua dan Papua Barat itu jauh lebih besar.
Bahkan di NTT juga besar.
Dari 93,2 persen konfirmasi kasus malaria yang ada di Indonesia sepanjang tahun 2013, Papua memiliki angka kasus malaria terbesar, yaitu 42,65 persen. Adapun Papua Barat sebesar 38,44 dan NTT sebesar 16,37. Dari 93,2 persen konfirmasi, pengobatan yang dilakukan sudah mencapai 84,4 persen. Namun Indonesia Timur ini yang memang masih tinggi.
Selain itu, tingginya perbedaan endemisitas antar daerah juga dianggap menjadi tantangan upaya penanggulangan malaria ini. Untuk itu, pemerintah melakukan pemetaan strategi daerah endemis untuk membagi fokus. Faktor risiko, seperti lingkungan dan iklim, juga menjadi tantangan dan hambatan dalam upaya pemerintah bersama keterbatasan akses pelayanan kesehatan. Memang harus diakui bahwa wilayah Indonesia timur memiliki keterbatasan pelayanan, dibanding dengan Indonesia barat dan tengah.
Dan untuk itulah, pemerintah memang ingin lebih menguatkan mutu layanan dan akses di Indonesia timur demi memeratakan penanggulangan malaria ini. Kasus malaria sendiri dianggap menjadi salah satu program prioritas Kementerian Kesehatan Indonesia.
Dari 93,2 persen konfirmasi kasus malaria yang ada di Indonesia sepanjang tahun 2013, Papua memiliki angka kasus malaria terbesar, yaitu 42,65 persen. Adapun Papua Barat sebesar 38,44 dan NTT sebesar 16,37. Dari 93,2 persen konfirmasi, pengobatan yang dilakukan sudah mencapai 84,4 persen. Namun Indonesia Timur ini yang memang masih tinggi.
Selain itu, tingginya perbedaan endemisitas antar daerah juga dianggap menjadi tantangan upaya penanggulangan malaria ini. Untuk itu, pemerintah melakukan pemetaan strategi daerah endemis untuk membagi fokus. Faktor risiko, seperti lingkungan dan iklim, juga menjadi tantangan dan hambatan dalam upaya pemerintah bersama keterbatasan akses pelayanan kesehatan. Memang harus diakui bahwa wilayah Indonesia timur memiliki keterbatasan pelayanan, dibanding dengan Indonesia barat dan tengah.
Dan untuk itulah, pemerintah memang ingin lebih menguatkan mutu layanan dan akses di Indonesia timur demi memeratakan penanggulangan malaria ini. Kasus malaria sendiri dianggap menjadi salah satu program prioritas Kementerian Kesehatan Indonesia.
4. Sporadik
Sporadik
adalah adalah suatu keadaan dimana suatu
masalah kesehatan ( umumnya penyakit)
yang ada di suatu wilayah tertentu frekuensinya berubah-ubah menurut
perubahan waktu
Contoh fenomena yang terjadi
adalah hepatitis.
Pada
tahun 2013 lebih dari 20 juta penduduk di Indonesia sudah terinfeksi virus
hepatitis, baik hepatitis A, B maupun C. Tingginya angka prevalensi hepatitis
tersebut mendorong pemerintah untuk segera melakukan pengendalian dan penanggulangannya.
Diakui pengetahuan
masyarakat tentang penyakit hepatitis masih tergolong rendah. Termasuk hal-hal
yang menjadi factor penyebab timbulnya hepatitis, bagaimana mencegahnya dan
bagaimana mengobatinya.
Setiap
jenis hepatitis itu berbeda-beda. Karena itu pendidikan kepada masyarakat itu
sangatlah penting. Hepatitis sesungguhnya memiliki banyak jenis virus. Namun di
Indonesia kasus hepatitis lebih banyak ditemukan pada hepatitis A, B, C, E dan
G. Sedang virus hepatitis D hampir tak pernah dilaporkan.
Dari
sekian banyak jenis virus hepatitis tersebut menurut Tjandra, yang paling
banyak dan berpengaruh terhadap morbiditas, mortalitas serta ekonomi adalah
virus hepatitis A, B dan C. Masing-masing memiliki cara pencegahan yang
berbeda.
Untuk hepatitis C, pencegahan dan penanggulangannya lebih kepada menjaga kebersihan makanan dan proses pembuatan makanan. Hepatitis B yaitu dengan imunisasi dan hepatitis C dengan menjaga perilaku baik yaitu tidak bertukaran jarum suntik.
Untuk hepatitis C, pencegahan dan penanggulangannya lebih kepada menjaga kebersihan makanan dan proses pembuatan makanan. Hepatitis B yaitu dengan imunisasi dan hepatitis C dengan menjaga perilaku baik yaitu tidak bertukaran jarum suntik.
Hepatitis
B bisa dicegah dengan imunisasi. Untuk itu pemberian imunisasi pada balita dan
remaja sangatlah penting. Sementara untuk hepatitis C, sampai saat ini
Indonesia belum mempunyai vaksinnya sehingga upaya pencegahan hanya bisa
dilakukan melalui promosi perilaku hidup bersih dan sehat. Virus hepatitis pada
dasarnya menyerang organ hari.
Penyakit
tersebut merupakan penyebab kematian terbanyak ke-2 dalam kelompok penyakit
infeksi. Khusus untuk hepatitis B, masih menjadi masalah kesehatan global
mengingat sekitar 2 miliar orang saat ini diduga terinfeksi virus hepatitis B.
dari angka tersebut 240 juta diantaranya menjadi hepatitis kronik (menahun) dan
25 persen diantaranya meninggal dunia.
Karena
menjadi persoalan kesehatan global, Indonesia pada 2011 mengusulkan kepada
Executive Board WHO untuk menjadikan hepatitis sebagai isu dunia dengan
melakukan penanganan komprehensif dan menetapkan sebagai resolusi WHA tentang
hepatitis virus.
3. Epidemiologi ilmu kunci dari
Kesehatan Masyarakat
Epidemiologi
sebagai inti dari kesehatan masyarakat atau the mother science of public
health. Kalimat itu muncul dari seorang pemimpin besar dunia kesehatan
masyarakat C.E.A. Winslow bernama Bakley. Epidemiologi merupakan cabang
keilmuan dari Ilmu Kesehatan Masyarakat ( Publik Health ) yang menekankan
perhatiannya terhadap keberadaan penyakit dan masalah kesehatan lainnya dalam
masyarakat. Keberadaan penyakit masyarakat itu didekati oleh epidemiologi
secara kuantitatif. Karena itu, epidemiologi akan mewujudkan dirinya sebagai
suatu metode pendekatan banyak memberikan perlakuan kuantitatif dalam
menjelaskan masalah kesehatan.
Beberapa definisi telah
dikemukakan oleh para pakar epidemiologi, beberapa diantaranya adalah :
1.Greenwood ( 1934 )
Mengatakan bahwa Epidemiologi mempelajari tentang penyakit dan segala macam
kejadian yang mengenai kelompok ( herd ) penduduk. Kelebihannya adalah adanya
penekanan pada Kelompok Penduduk yang mengarah kepada Distribusi suatu
penyakit.
2.Brian Mac Mahon (
1970 ) Epidemiology is the study of the distribution and determinants of
disease frequency in man. Epidemiologi adalah Studi tentang penyebaran dan
penyebab frekwensi penyakit pada manusia dan mengapa terjadi distribusi semacam
itu. Di sini sudah mulai menentukan Distribusi Penyakit dan mencari Penyebab
terjadinya Distribusi dari suatu penyakit.
3.Wade Hampton Frost (
1972 ) Mendefinisikan Epidemiologi sebagai Suatu pengetahuan tentang fenomena
massal ( Mass Phenomen ) penyakit infeksi atau sebagai riwayat alamiah (
Natural History ) penyakit menular. Di sini tampak bahwa pada waktu itu
perhatian epidemiologi hanya ditujukan kepada masalah penyakit infeksi yang
terjadi/mengenai masyarakat/massa.
4.Anders Ahlbom &
Staffan Norel ( 1989 ) Epidemiologi adalah Ilmu Pengetahuan mengenai terjadinya
penyakit pada populasi manusia.
5.Gary D. Friedman (
1974 ) Epidemiology is the study of disease occurance in human populations.
6.Abdel R. Omran ( 1974
) Epidemiologi adalah suatu ilmu mengenai terjadinya dan distribusi keadaan
kesehatan, penyakit dan perubahan pada penduduk, begitu juga determinannya
serta akibat – akibat yang terjadi pada kelompok penduduk.
7. Barbara Valanis
Epidemiology is term derived from the greek languang ( epid = upon ; demos =
people ; logos = science ).
8.Last ( 1988 )
Epidemiology is study of the distribution and determinants of health – related
states or events in specified population and the application of this study to
control of problems.
9.Elizabeth Barrett
Epidemiology is study of the distribution and causes of diseases.
10.WHO (Regional
committee Nacting ke 42 di Bandung) : Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari
distribusi dan determinan dari peristiwa kesehatan dan peristiwa lainnya yang
berhubungan dengan kesehatan yang menimpa sekelompok masyarakat dan menerapkan
ilmu tersebut untuk memecahkan masalah-masalah tersebut.
Sedangkan dalam
pengertian modern pada saat ini EPIDEMIOLOGI adalah : “Ilmu yang mempelajari
tentang Frekuensi dan Distribusi (Penyebaran) serta Determinan masalah
kesehatan pada sekelompok orang/masyarakat serta Determinannya (Faktor – faktor
yang Mempengaruhinya).
Tujuan dari
epidemiologi yaitu:
·
Mendeskripsikan distribusi,
kecenderungan dan riwayat alamiah penyakit atau keadaan kesehatan populasi
·
Menjelaskan etiologi penyakit
·
Meramalkan kejadian penyakit
·
Mengendalikan distribusi penyakit dan
masalah kesehatan.
Sasaran epidemiologi:
Populasi manusia atau komunitas berbeda dengan ilmu kedokteran yaitu individu
pasien.
Dalam epidemiologi
terdapat hal pokok yakni:
Frekuensi masalah
kesehatan.
Frekuensi yang
dimaksudkan disini menunjuk kepada besarnya masalah kesehatan yang terdapat
pada sekelompok manusia.
Penyebaran masalah
kesehatan.
Penyebaran masalah
keshatan disini menunjuk pada pengelompokan masalah kesehatan menurut suatu
keadaan tertentu. Keadaan tertentu tersebut yaitu
a. Menurut Ciri – ciri Manusia ( MAN )
b. Menurut Tempat (
PLACE )
c. Menurut Waktu ( TIME )
Faktor – faktor
determinan
Menunjuk kepada faktor penyebab dari suatu penyakit /
masalah kesehatan baik yang menjelaskan
Frekwensi, penyebaran ataupun yang menerangkan penyebab munculnya masalah
kesehatan itu sendiri. Dalam hal ini ada 3 langkah yang lazim dilakukan yaitu :
a. Merumuskan Hipotesa tentang penyebab yang dimaksud.
b. Melakukan pengujian terhadap rumusan Hipotesa yang telah disusun.
c. Menarik kesimpulan.
Kesimpulan
Epidemiologi
merupakan cabang keilmuan dari Ilmu Kesehatan Masyarakat ( Public Health ) yang
menekankan perhatiannya terhadap keberadaan penyakit dan masalah kesehatan
lainnya dalam masyarakat. Keberadaan penyakit masyarakat itu didekati oleh
epidemiologi secara kuantitatif. Karena itu, epidemiologi akan mewujudkan
dirinya sebagai suatu metode pendekatan banyak memberikan perlakuan kuantitatif
dalam menjelaskan masalah kesehatan. Dengan cara berfikir epidemiologi seperti
frekuensi, distribusi dan faktor-faktor determinan maka masalah kesehatan yang
ada di masyarakat bisa teratas karena epidemiologi merupakan inti dari
kesehatan masyarakat atau yang biasa dikenal “ The Mother Science Of Public
Health”
DAFTAR
PUSTAKA
Indonesia.
Kementrian Kesehatan, Pusat Data dan Informasi. 2010. Profil Kesehatan Indonesia
2010. Jakarta : Kementerian
Kesehatan RI.
............... , 2006. Profil Kesehatan Indonesia 2006. Jakarta : Kementerian Kesehatan
RI.
Sunarto,
Kamanto. 2009. Sosiologi
kesehatan. Jakarta : Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
Weiss,
Gregory L., & Lonnquist, Lynne E. 2010. Health, Healing, and Illness
Second Edition.New Jersey :
Prentice Hall.
“Ratusan Warga Pamekasan Idap Kusta”, dalamhttp://www.mediaindonesia.com/read/2010/12/02/185445/125/101/Ratusan-Warga-Pemekasan-Idap-Kusta (diakses
tanggal 15 Maret 2014)
“Endemis Penyakit Kusta Sangat Tinggi di Jatim”,
dalam http://www.tribun-news.com/pendidikan-kesehatan/endemis-penyakit-kusta-sangat-tinggi-di-jatim.html(diakses
tanggal 15 Maret 2014)
“Peneiti : Kondisi Terbatas, Masyarakat madura
Sensitif”, dalamhttp://oase.kompas.com/read/2011/12/09/04051588/Peneliti.Kondisi.Terbatas.Masyarakat.Madura.Sensitif(diakses
tanggal 15 )
“Informasi Kusta dan gejalanya”, dalam http://doktersehat.com/informasi-kusta-dan-gejalanya/ (diakses
tanggal 15 Maret 2014)